Final Fantasy 7 Cloud Strife
Powered By Blogger

Rabu, 08 Agustus 2012

PRAKTEK JARKOM


UAS JARKOM PRAKTEK
PERANCANGAN BLUEPRINT INFRASTRUKTUR JARINGAN
WIRELESS DENGAN 6 ACESS POINT


 









                                                    Disusun Oleh :
                                                    Nama          : Marsun
                                                    NIM            : SIA201034
                                                    Mapel         : UAS PRAKTEK JARKOM



SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA DAN KOMPUTER
STMIK WIDYA UTAMA PURWOKERTO
PROGRAM STUDI TEKNIK INFORMATIKA
PURWOKERTO

DAFTAR ISI


BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
B.     Ruang Lingkup
C.    Perumusan Masalah
D.    Tujuan Penelitian
E.     Manfaat Penelitian

BAB II LANDASAN TEORI

BAB III PEMBAHASAN
A.    Materi
B.     Analisi Kebutuhan
C.    Desain
D.    Langkah Kerja
BAB IV PENUTUP

DAFTAR PUSTAKA


BAB I
 PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang

Teknologi informasi  dan  komunikasi  data  memungkinkan  penyampaian informasi dapat diperoleh lebih cepat. Hal ini disadari oleh sekolah  yang peka terhadap perkembangan teknologi informasi dengan memulai program e-Government. e-Government jika dikembangkan dan dikelola dengan tepat dapat memberikan dampak positif bagi peningkatan pelayanan publik dan kinerja sekolah apalagi di kalangan sekolah yang sangat membutuhkan informsi untuk kegitan belajar mengajar.
Blueprint   merupakan  landasan  e-Government  sebelum  tahapan  implementasi dilaksanakan, sehingga pihak-pihak terkait perlu menyamakan persepsi melalui blueprint yang dibuat. Blueprint menjadi penting karena investasi di bidang teknologi informasi cukup mahal dan sekolah  tidak boleh gegabah dalam melakukan investasi di bidang teknologi informasi.
Sekolah yang  saat  ini  telah  memiliki  blueprint  e-Government,
permasalahannya bahwa sekolah belum memiliki blueprint infrastruktur jaringan yang
menjadi fondasi bagi investasi di bidang teknologi informasi khususnya membangun sarana komunikasi disekolahan tersebut agar dapat berjalan efektif. Hal ini menjadi alasan utama dilakukan penelitian  untuk  melakukan ‘Perancangan  Blueprint  Infrastruktur  Jaringan  Wireless dengan 6 Acess Point.
Jaringan yang berbasis pada teknologi wireless sebagai pengembangan dari teknologi wired dalam implementasinya memerlukan survei lapangan. Survei ini merupakan tahapan awal menentukan lokasi kandidat untuk penempatan berbagai peralatan jaringan yang mendukung pengembangan teknologi wireless. Survei ini menjadi penting ketika terdapat tantangan berupa kondisi tipografi wilayah sekolah.







B.  Rumusan Masalah
     Masalah yang akan dijadikan fokus blueprint adalah :
a.         Menentukan titik-titik lokasi jalur.
b.    Membuat dan merancang topologi  untuk ketersambungan antar ruangan sekolah
c.    Menganalisis penempatan acces point.
d.        Menentukan piranti untuk infrastruktur jaringan pada sekolahan tersebut.
e.    Hasil akhir blueprint infrastruktur pada sekolahan tersebut.    

C.  Perumusan Masalah
Permasalahan dalam penelitian ini dibatasi oleh beberapa hal sebagai berikut:
a.       Menentukan koordinat titik-titik lokasi di 6 titik Acces Point.
b.      Menentukan titik pemasangan antena agar dapat terjangkau oleh 6 Acces Point.
c.       Memasang koneksi anatar ruangan sekolah se-efeisien mungkin.
d.      Membuat pengalamatan IP dan subnet yang efisien.

D.  Tujuan
Tujuan dari perncanaan ini yaitu untuk mempermudah kegiatan belajar mengajar di sekolah terutama untuk kegiatan berbagi pake internet. Sehingga akan lebih efektif untuk di gunakan oleh seluruh warga sekolah tersebut.

E.  Manfaat
Manfaat dari kegiatan ini yaitu
1.      Menjadikan akses komunikasi antar seluruh ruangan sekolah dapat berjalan dengan lancar.
2.      Mempermudah guru untuk mengakses informasi yang dibutuhkan secara online.
3.       Membantu siswa dalam mencari tugas tugas secara online.
4.      Membantu siswa untuk lebih berkreatif.

BAB II
LANDASAN TEORI


Teknologi informasi  dan  komunikasi  data  memungkinkan  penyampaian informasi dapat diperoleh lebih cepat. Hal ini disadari oleh sekolah  yang peka terhadap perkembangan teknologi informasi dengan memulai program e-Government. e-Government jika dikembangkan dan dikelola dengan tepat dapat memberikan dampak positif bagi peningkatan pelayanan publik dan kinerja sekolah apalagi di kalangan sekolah yang sangat membutuhkan informsi untuk kegitan belajar mengajar.
Blueprint   merupakan  landasan  e-Government  sebelum  tahapan  implementasi dilaksanakan, sehingga pihak-pihak terkait perlu menyamakan persepsi melalui blueprint yang dibuat. Blueprint menjadi penting karena investasi di bidang teknologi informasi cukup mahal dan sekolah  tidak boleh gegabah dalam melakukan investasi di bidang teknologi informasi.
Sekolah yang  saat  ini  telah  memiliki  blueprint  e-Government,
permasalahannya bahwa sekolah belum memiliki blueprint infrastruktur jaringan yang
menjadi fondasi bagi investasi di bidang teknologi informasi khususnya membangun sarana komunikasi disekolahan tersebut agar dapat berjalan efektif. Hal ini menjadi alasan utama dilakukan penelitian  untuk  melakukan ‘Perancangan  Blueprint  Infrastruktur  Jaringan  Wireless dengan 6 Acess Point.







BAB III
PEMBAHASAN


A.  Metode Penelitian
Metode yang digunakan untuk melakukan perancanagn dalam pembuat blueprint ini yaitu.
1.      Menelaah kondisi sekolahan tersebut.
2.      Melakukan study map menggunakan google earth dan google map untuk mempelajari lokasi sekolahan.
3.      Perencanaan awal titik-titik lokasi.
4.      Penentuan topologi jaringan backbone yang akan digunakan.
5.      Melakukan survei lapangan.
6.      Melakukan perhitungan line of sight, Fresnel zone, eirp, fsl (link budget).
7.      Topologi akhir jaringan backbone untuk infrastruktur jaringan sekolah tersebut.

B.  Analisis Kebutuhan
 Berdasarkan penjelasan permasalahan pada analisis masalah, maka harapannya data
dan informasi menjadi lebih cepat diproses dengan tepat sasaran.
1.      Persiapan Bahan yang digunakan
a)         Antena dan Radio Access Point dalam satu paket. Bekerja pada frekwensi 5.8Ghz. Antena Solid Dish dengan gain 25dBi. Diperkuat dengan radio AP 5.8Ghz 200mW. Sangat cocok untuk koneksi Point to Point jarak jauh.

 

b)        Kabel jaringan dengan kualitas yang bagus.


 






c)         Tester


 





d)        Cramping tools


 





e)         Konektor RJ 45.









C.  Desain
1.      Merancang penepatan posisi acces point  untuk di tempatkan di ruang sekolah agar bisa mengcaver seluruh lingkungan sekolah.
2.      Membuat desain untuk topologi jaringan yang sesuai untuk kondisi sekolahan tersebut.
3.      Melakukan pengecekan kondisi kondisi luas sekolahan tersebut.
4.      Melakukan pengalamat IP addres dan subnet yang efisien.

D.  Langkah Kerja
1.      Melakukan survei kondisi sekolahan tersebut.


 2.      Melakukan Posisi penepatan Acce Point setiap titiknya dan memberikan pengalamat tiap masing masing acces point.


 

            Keterangan :
            AP1 : Ruang Loby
            AP2 : Ruang Kelas Lantai 2
            AP3 : Ruang Guru
            AP4 : Ruang Kelas
            AP5 : Ruang Perpus
            AP6 : Ruang osis
3.       Melakukan pengalamatan IP addres dan subnetting.


 


           
                Keterangan :
                AP1  Acces point utama dengan posisi Acces Point di luar dengan antena sektoral 120 derajat
                        IP Address                  = 192.168.0.1
                        Subnet mask                = 255.255.255.0
                AP2  dengan mode repeateposisi Acces Point di luar dengan antena sektoral 360 derajat
                        IP Address                  = 192.168.0.2
                        Subnet mask                = 255.255.255.0
                AP3  dengan mode repeateposisi Acces Point di luar dengan antena sektoral 360 derajat
                        IP Address                  = 192.168.0.3
                        Subnet mask                = 255.255.255.0
                AP4  dengan mode repeateposisi Acces Point di luar dengan antena sektoral 360 derajat
                        IP Address                  = 192.168.0.4
                        Subnet mask                = 255.255.255.0
                AP5  dengan mode repeate posisi Acces Point di luar dengan antena sektoral 180 derajat
                        IP Address                  = 192.168.0.5
                        Subnet mask                = 255.255.255.0
          AP6  dengan mode repeate posisi Acces Point di luar dengan antena sektoral 360 derajat
                        IP Address                  = 192.168.0.6
                        Subnet mask                = 255.255.255.0
4.      Setelah dilakukan pengesetan Ip addres langkah selanjutnya yaitu pengujian atau pengetesan. Apakah seluruh acces point dapat berjalan dengan maksimla atau  tidak. Jika belum semuanya maka di lakukan konfigurasi penempatan acces point yang sesuai.
5.      Setelah semuanya berhasil dah jalan semua berarti pemasangan acces point dah dapat berjalan dan siap di gunakan.
BAB IV
PENUTUP

            Dari hasil uraian uraian di atas maka dapt kami simpulkan untuk pernacangan sebuah jaringan di sekolah itu tidak lah mudah. Oleh karena itu sebelum malakukan pemasangan perlu di lakukan perancangan terlebih dahulu, hal ini untuk memudahkan dalam proses instalasi atau pengerjaan dalam proyek tersebut. Hal yang lain yaitu untuk mempermudha dalam melakukan perbaikan apabila terjadi gangguan atau trobleshoting .  Oleh sebab itu perlu dilakukan namanya Blueprint, sehingga akan mempermudah pekrjaan kita .
            Kami meyakini dengan perencanaan blueprint ini akan sedikit mengurahi trobel dalam proses instalasi. Demikian sedikit tentang perencanaan blueprint pemasangan wireles dengan 6 acces point di sekolah.
            Blueprint ini masih sangat lah jauh dari sempurna. Oleh sebab itu kami mengarapakan saran dan kritik untuk kesempurnaan dalam pengerjaan blueprint ini kedepanya lebih baik.













DAFTAR PUSTAKA

Aggelou, George.(2004). Wireless Mesh Networking ,Mcgraw-Hill : communication
Graziani, Rick. (2003). Antennas-part 1 Antenna characteristic and Line of Sight Paths Graziani, Rick.(2005).Wireless Radio Technology
Purbo,W.Onno.(2005). Buku Pegangan Internet Wireless dan Hotspot. Penerbit: PT Elex Media Komputindo
                           
kelompok Gramedia,Jakarta
                                                                                      
UNTUK DOWNLOAD FILE DISINI                                          

Senin, 06 Agustus 2012


JAWABAN UJIAN JARKOM SEMESTER 5 TEORI

NAMA : MARSUN
NIM : SIA201034
MAPEL : JARKOM

1. Jaringan WLAN dapat bekerja dalam dua mode yaitu:


Mode Ad-Hoc

 Mode ad-hoc sering disebut sebagai jaringan peer to peer atau disebut juga jaringan point to point. Mode ad-hoc memungkinkan hubungan antar komputer pada jaringan WLAN tanpa melalui suatu access point. Tidak seperti pada jaringan kabel yang mana jaringan point to point hanya berlangsung antara dua komputer, jaringan point to point pada jaringan WLAN dapat dilakukan oleh tiga komputer secara bersama. Semua komputer dapat berhubungan secara langsung dan menggunakan sumber daya yang ada secara bersama. Pada jaringan point to point, masing-masing komputer cukup dipasang kartu WLAN dan tidak diperlukan peralatan lain. Pada jaringan ini, hanya dimungkinkan terjadinya hubungan antar komputer dalam kelompokjaringan tersebut dan tidak dapat untuk mengakses jaringan lain kecuali salah satu komputer difungsikan sebagai bridge. Jikajumlah komputer sudah mencapai tiga dan ada komputer lain yang ingin masuk pada jaringan ini, maka biasanya tidak akan berhasil sampai salah satu dari komputer yang ada memutuskan hubungan dengan jaringan. Intinya, pada jaringan point to point WLAN hanya diijinkan untuk hubungan antar tiga komputer.

Mode Infrastuktur

Jaringan WLAN yang bekerja pada mode ad-hoc hanya dibatasi untuk hubungan antar tiga komputer. Untuk menghubungkan banyak komputer, jaringan WLAN harus dijalankan menggunakan mode infrastruktur. Untuk menyusun jaringan WLAN yang bekerja pada mode infrastruktur diperlukan peralatan tambahan berupa wireless access point (WAP) atau disebut secara singkat dengan access point. Access point berlaku seperti hub atau switch pada jaringan kabel, sehingga access point akan menjadi pusat darijaringanWLAN.
2. Power over Ethernet PoE (Power Over Ethernet) mengacu pada infrastruktur kabel yang ada tanpa perubahan apapun dalam kasus terminal berbasis IP dapat mengirimkan sinyal data pada saat yang sama, tetapi juga untuk memberikan catu daya DC peralatan sepertiteknologi.teknologi PoE saat menggunakan kabel Ethernet biasa untuk mengirimkan sinyal Ethernet dan daya DC, integrasi daya dan data pada sistem kabel yang sama dalam memastikan keselamatan yang ada terstruktur kabel sambil menjamin operasi normal dari jaringan yang ada. POE bisa menyimpan banyak sumber daya, dengan standar 802.3af IEEE untuk mendirikan sejumlah besar aplikasi dengan cepat muncul, termasuk titik akses Bluetooth, printer jaringan, telepon IP, kamera web, jembatan nirkabel, akses pembaca kartu kendalidan sistem pemantauan.
Ini membawa kita inspirasi yang besar, jika standar tambahan yang diusulkan, kabel sistem yang terintegrasi yang membawa sinyal akan lebih beragam, proses mempromosikan jaringan akan membuat sistem kabel terintegrasi dengan namanya.

3. Permasalahan yang sering muncul pada pemasangan maupun setelah
pemasangan jaringan berbasis luas aatau wireles
  • Jarak dan ganguan cuaca yang akan menggangu frekuensi 2,4 Mhz menjadi lemah, yang harusnya mendapatkan signal 80–95 %. contoh Wan yang akan kita ambil adalah system RT/RW net,dimana system ini sudah berkembang di beberapa kawasan di Indonesia.Serta beberapa trik untuk merawat dan mengamankan perangkat– perangkat Wan ( wide area network).
  • Tegangan Listrik Tegangan listrik dapat menyebabkan ganguan apabila tegangan yang dihasilkan tidak stabil, sering terjadi naik dan turun atau mati mendadak dari sumber PLN. Haltersebut sangat mempengaruhi dikarenakan semua peralatan yang kita gunakan bersumber pada listrik. Sumber listrik yang kita gunakan tidak baik atau tidak stabil,dapat menyebabkan peralatan yang kita gunakan mudah rusak. Perangkat wirelessyang kita gunakan sering mati mendadak karena sumber listrik mati dapatmenyebabkan perangkat WireLess yang kita gunakan akan cepat rusak. Sehinga akanmempengaruhi jaringan apabila terjadi kerusakan pada Wirelesss/radio workstation
    maupun di rooter server.
  • Mati atau tidak berfungsinya komponen pada perangkat wirelessMati atau tidak berfungsinya komponen pendukung perangkat WireLess disebabkanoleh ganguan Petir ( gangguan alam), terjadi dikarenakan factor alam dan petir disaat cuaca hujan dan angin kencang yang menyebabkan perangkat akan terbakar juga pemakaian yang terlalu lama tanpa adanya perawatan yang berkala.
  • Perangkat Software, Ganguan juga dapat terjadi dari software yang ada di Server atauPC client,ganguan ini bisa disebabkan oleh tidak jalannya aplikasi di wireless, konflik IP ( Internet Protocol ),tidak jalannya proses proxy server pada server, dan masih banyak lagi jenis ganguan software lainnya, solusinya adalah Admin harus menguasaistandart server dan client.
4. Karena dengan Wireless Distribution System (WDS) memungkinkan jaringan wireless dikembangkanmenggunakan beberapa access point tanpa harus memerlukan backbone kabel jaringan untuk menghubungkan mereka, seperti cara tradisional. Keuntungan yang bisa kelihatan dari WirelessDistribution Systemdibanding solusi lainnya adalah bahwa dengan Wireless Distribution System,header MAC address dari paket traffic tidak berubah antar link access point. tidak seperti pada proses encapsulation misalnya pada komunikasi antar router yang selalu menggunakan MACaddress pada hop berikutnya .
Perbedanan antara WDS Mode Bridge dengan Mode Repeater yaitu kalo Bridge mode
Untuk aplikasi bridge mode, wireless LAN biasanya digunakan untuk menghubungkan antar-LAN (LAN to LAN) yang saling terpisah karena jarak antar gedung tidak terlalu jauh (ratusan meter) maka wireless LAN dapat sebagai alternative solusi. Konfigurasi jaringan tersebut dilakukan dengan memakai 2 AP, satu sebagai AP dan pasangannya dilakukan sebagai AP clien.
Cara setting sebagai model bridge mode adalah
  •       Pilih AP sebagai fungsi bridge
  •    Dua AP yang digunakan sebagai bridge dimaksud harus dikonfigurasi dengan SSID dan channel frekuensi yang sama 
Sedangkan untuk WDS mode repater WDS dapat di bangun dalam beberapa konfigurasi, point-to-point; point-to-multipoint; dan WDS repeater.
5. Hubungan antara kekuatan daya dari AP yang di terima atai di pancarkan dengan polarisasi yaitu kita harus memperhatikan [posoisi ruangan dan kondisi banguna yang akan kita pasang seperti apa. Hal ini untuk mempermudah pemasangan AP dengan antena pemacar sehingga sinyal yang di hasilakan akan tersebar luas secara merata. Karena dengan penepatan yang baik maka hasil pacaran dan yang di terima juga akan maksimal. 

SEMOGA BERMANFAAT ................???? 
JANGAN LUPA COMENTARNYA DI TUNGGU ...???
YANG MAU DOWNLOAD FILENYA DISINI 

Senin, 28 Mei 2012



Nama                    : Marsun
NIM                       : SIA201034
Makul                   : Jaringan Komputer
Dosen                   : Nahar Mardiyantoro, M.kom
Blog                       : http://www.marsmandiricomp.blogspot.com/
Jawaban Ujian Praktek 



Untuk Download Filenya DISINI


Nama                     : Marsun
NIM                       : SIA201034
Makul                    : Jaringan Komputer
Dosen                    : Nahar Mardiyantoro, M.kom
Blog                       : http://www.marsmandiricomp.blogspot.com/
Jawaban Ujian Toeri
  1. Kali ini saya akan membayangkan betapa pesatnya teknologi pemanfaatan jaringan komputer yang akan meledak dimasa depan. Mungkin untuk 5 tahun atau  10 tahun ke depan untuk jaringan komputer kedepanya sudah tidak menggunkan kabel lagi namun sudah akan beralih ke model wireles. Berikut perkembangan jaringan ke masa depan yang tidak bisa di tinggalakan. Internet akan menjadi wajib bagi semua orang baik di perusahaan maupun di sekolah sekolah karena untuk mendapatkan  informasi sekang sudah tersabung ke internet. Ke dua penggunana jaringan kabel akan di kurangi sedikit demi sedikit, keluarnya model sensor dan akan adanya model Monitor Virtual. Dan mungkin kita tidak akan menunggu terlalu lama untuk dapat melihat monitor virtual. Itulah sedikit ulasan imajinasi saya mengenai teknologi jaringan komputer di masa depan. Kita tidak akan memungkiri perkembangan zaman dan teknologi, namun janganlah kita menjadi korban dari pesatnya perkembangan teknologi tersebut.
  2.
        
       
Jaringan tersebut terdiri dari dua group yang masih masing group tersebut masih satu kelas yaitu kelas C. Dimana untuk group satu dengan group yang lain masing-masing dihubungkan ke switch dan agar kedua jaringan dapat dihubungkan dan bisa saling berkomunikasi dibutuhkan rooter sebagai jembatan/penterjemah dari antar kedua group. Kemudian diperinci sebagai berikut :
Grup 1 terdiri :
PC0  : Dengan IP 192.168.1.1
GATEWAY : 192.168.1.4
Subnet Mask :255.255.255.248
PC1  : Dengan IP 192.168.1.2
GATEWAY : 192.168.1.4
Subnet Mask :255.255.255.248
PC2  : Dengan IP 192.168.1.3
GATEWAY : 192.168.1.4
Subnet Mask :255.255.255.248

Grup 2 terdiri :
PC3      : Dengan IP 192.168.2.1
GATEWAY : 192.168.2.4
Subnet Mask :255.255.255.248
PC4      : Dengan IP 192.168.2.2
GATEWAY : 192.168.2.4
Subnet Mask :255.255.255.248
PC5      : Dengan IP 192.168.2.3
GATEWAY : 192.168.2.4
Subnet Mask :255.255.255.248

Dan untuk setting Routernya yaitu :
Dari Group1 : 192.168.1.4
Dari Group1 : 192.168.2.4


3. Untuk penggunaan koneksi komputer, dikenal 2 buah tipe penyambungan kabel UTP ini, yaitu straight cable dan crossover cable. Fungsi masing-masing jenis koneksi ini berbeda, straight cable digunakan untuk menghubungkan client ke switch, HUB/Router, sedangkan crossover cable digunakan untuk menghubungkan dari PC ke PC atau  client ke client atau dalam kasus tertentu digunakan untuk menghubungkan HUB/switch ke HUB/switch.
Untuk mengubungakn komputer dari PC ke PC secara langsung maka kita gunakan kabel crossover. Untuk susunanya dan urutanya sebagai berikut.
Ujung 1

Ujung 2
Putih Orange

Putih Hijau
Orange

Hijau
Putih Hijau

Putih Orange
Biru

Biru
Putih Biru

Putih Biru
Hijau

Orange
Putih Coklat

Putih Coklat
Coklat

Coklat

Sedangkan untuk mengubungakn komputer dari PC yang terkoneksi secara langsung dengan switch maka kita gunakan kabel straight kabel. Untuk susunanya dan urutanya sebagai berikut.
Ujung 1

Ujung 2
Putih Orange

Putih Hijau
Orange

Hijau
Putih Hijau

Putih Orange
Biru

Biru
Putih Biru

Putih Biru
Hijau

Orange
Putih Coklat

Putih Coklat
Coklat

Coklat

 
1   4.    Jika dalam sebuah perusahaan memiliki 250 komputer yang akan dikoneksikan dalam sebuah sistem jaringan dengan menggunakan IP kelas C, maka CIDR yang cocok  adalah dengan 2 subnet dan jumlah  persubnet 126 tapi alangkah baiknya dari jumlah 250 komputer mau di jadikan/di pecah  menjadi berapa subnet sesuai dengan jaringan yang akan di pecah missal:
Mau di pecah menjadi 5 subnet karena akan terdiri dari 5 kantor dengan jumlah 250  komputer maka bil.5 jika di binnerkan akan menjadi 101  maka di lihat dari binner 101  jumlah digitnya ada 3 angka nah 3 angka ini di jadikan binner sejumlah 3 =224=III00000
jadi di subnet masknya menjadi =255.255.255.224
            Maka dapat di hitung jumlah subnet=2pangkat3 -2=6 subnet
          Dan jumlah host persubnet=2pangkat5-2=32 host persubnet
Jadi 2 pangkat8=256-224=32
Jadi 32+32=64,64+32=96,96+32=128,128+32=160
Jadi:
192.168.1.32   s/d   192.168.1.63            subnet ke1
192.168.1.64    s/d   192.168.1.95           subnet ke2      
192.168.1.96    s/d   192.168.1.127         subnet ke3
192.168.1.64    s/d   192.168.1.95           subnet ke4
 192.168.1.96     s/d  192.168.1.127        subnet ke5
192.168.1.128    s/d   192.168.1.160       subnet ke6
Jadi: kelebihan satu subnet tidak apa lebih satu subnet daripada kurang  karena yang di butuhkan hanya 5 subnet/kantor
Jadi:
 alamat subnet                       : 192.168.1.32  
Alamat host pertama            : 192.168.1.33  
Alamat host terakhir             : 192.168.1.159    
Alamat broadcast                  : 192.168.1.160       




Untuk download Filenya DI SINI







Rabu, 09 Mei 2012

ETIKA PROFESI

NIM       : SIA201034
NAMA   : MARSUN
MAKUL : ETIKA PROFESI



BAB I
PERKEMBANGAN ETIKA PROFESI

A. PENTINGNYA ETIKA PROFESI

Apakah etika, dan apakah etika profesi itu ? Kata etik (atau etika) berasal dari kata
ethos (bahasa Yunani) yang berarti karakter, watak kesusilaan atau adat. Sebagai
suatu subyek, etika akan berkaitan dengan konsep yang dimilki oleh individu ataupun
kelompok untuk menilai apakah tindakan-tindakan yang telah dikerjakannya itu salah
atau benar, buruk atau baik.
Menurut Martin (1993), etika didefinisikan sebagai “the discpline which can act as
the performance index or reference for our control system”. Dengan demikian, etika
akan memberikan semacam batasan maupun standar yang akan mengatur pergaulan
manusia di dalam kelompok sosialnya. Dalam pengertiannya yang secara khusus
dikaitkan dengan seni pergaulan manusia, etika ini kemudian dirupakan dalam bentuk
aturan (code) tertulis yang secara sistematik sengaja dibuat berdasarkan prinsipprinsip
moral yang ada dan pada saat yang dibutuhkan akan bisa difungsikan sebagai
alat untuk menghakimi segala macam tindakan yang secara logika-rasional umum
(common sense) dinilai menyimpang dari kode etik. Dengan demikian etika adalah
refleksi dari apa yang disebut dengan “self control”, karena segala sesuatunya dibuat
dan diterapkan dari dan untuk kepenringan kelompok sosial (profesi) itu sendiri.
Selanjutnya, karena kelompok profesional merupakan kelompok yang berkeahlian
dan berkemahiran yang diperoleh melalui proses pendidikan dan pelatihan yang
berkualitas dan berstandar tinggi yang dalam menerapkan semua keahlian dan
kemahirannya yang tinggi itu hanya dapat dikontrol dan dinilai dari dalam oleh rekan
sejawat, sesama profesi sendiri. Kehadiran organisasi profesi dengan perangkat
“built-in mechanism” berupa kode etik profesi dalam hal ini jelas akan diperlukan
untuk menjaga martabat serta kehormatan profesi, dan di sisi lain melindungi
masyarakat dari segala bentuk penyimpangan maupun penyalah-gunaan kehlian
(Wignjosoebroto, 1999).
Oleh karena itu dapatlah disimpulkan bahwa sebuah profesi hanya dapat memperoleh
kepercayaan dari masyarakat, bilamana dalam diri para elit profesional tersebut ada
kesadaran kuat untuk mengindahkan etika profesi pada saat mereka ingin
memberikan jasa keahlian profesi kepada masyarakat yang memerlukannya. Tanpa
etika profesi, apa yang semual dikenal sebagai sebuah profesi yang terhormat akan
segera jatuh terdegradasi menjadi sebuah pekerjaan pencarian nafkah biasa (okupasi)
yang sedikitpun tidak diwarnai dengan nilai-nilai idealisme dan ujung-ujungnya akan
berakhir dengan tidak-adanya lagi respek maupun kepercayaan yang pantas diberikan
kepada para elite profesional ini.

B. PENGERTIAN ETIKA
Dalam pergaulan hidup bermasyarakat, bernegara hingga pergaulan hidup tingkat
internasional di perlukan suatu system yang mengatur bagaimana seharusnya manusia
bergaul. Sistem pengaturan pergaulan tersebut menjadi saling menghormati dan
dikenal dengan sebutan sopan santun, tata krama, protokoler dan lain-lain.
Maksud pedoman pergaulan tidak lain untuk menjaga kepentingan masing-masing
yang terlibat agara mereka senang, tenang, tentram, terlindung tanpa merugikan
kepentingannya serta terjamin agar perbuatannya yang tengah dijalankan sesuai
dengan adat kebiasaan yang berlaku dan tidak bertentangan dengan hak-hak asasi
umumnya. Hal itulah yang mendasari tumbuh kembangnya etika di masyarakat kita.
Menurut para ahli maka etika tidak lain adalah aturan prilaku, adat kebiasaan manusia
dalam pergaulan antara sesamanya dan menegaskan mana yang benar dan mana yang
buruk.
Perkataan etika atau lazim juga disebut etik, berasal dari kata Yunani ETHOS yang
berarti norma-norma, nilai-nilai, kaidah-kaidah dan ukuran-ukuran bagi tingkah laku
manusia yang baik, seperti yang dirumuskan oleh beberapa ahli berikut ini :
- Drs. O.P. SIMORANGKIR : etika atau etik sebagai pandangan manusia dalam
berprilaku menurut ukuran dan nilai yang baik.
- Drs. Sidi Gajalba dalam sistematika filsafat : etika adalah teori tentang tingkah
laku perbuatan manusia dipandang dari seg baik dan buruk, sejauh yang dapat
ditentukan oleh akal.
- Drs. H. Burhanudin Salam : etika adalah cabang filsafat yang berbicara mengenai
nilai dan norma moral yang menentukan prilaku manusia dalam hidupnya.
Etika dalam perkembangannya sangat mempengaruhi kehidupan manusia. Etika
memberi manusia orientasi bagaimana ia menjalani hidupnya melalui rangkaian
tindakan sehari-hari. Itu berarti etika membantu manusia untuk mengambil sikap dan
bertindak secara tepat dalam menjalani hidup ini. Etika pada akhirnya membantu kita
untuk mengambil keputusan tentang tindakan apa yang perlu kita lakukan dan yang
pelru kita pahami bersama bahwa etika ini dapat diterapkan dalam segala aspek atau
sisi kehidupan kita, dengan demikian etika ini dapat dibagi menjadi beberapa bagian
sesuai dengan aspek atau sisi kehidupan manusianya.
Ada dua macam etika yang harus kita pahami bersama dalam menentukan baik dan
buruknya prilaku manusia :
1. ETIKA DESKRIPTIF, yaitu etika yang berusaha meneropong secara kritis dan
rasional sikap dan prilaku manusia dan apa yang dikejar oleh manusia dalam
hidup ini sebagai sesuatu yang bernilai. Etika deskriptif memberikan fakta
sebagai dasar untuk mengambil keputusan tentang prilaku atau sikap yang mau
diambil.
2. ETIKA NORMATIF, yaitu etika yang berusaha menetapkan berbagai sikap dan
pola prilaku ideal yang seharusnya dimiliki oleh manusia dalam hidup ini sebagai
sesuatu yang bernilai. Etika normatif memberi penilaian sekaligus memberi
norma sebagai dasar dan kerangka tindakan yang akan diputuskan.
Etika secara umum dapat dibagi menjadi :
a. ETIKA UMUM, berbicara mengenai kondisi-kondisi dasar bagaimana manusia
bertindak secara etis, bagaimana manusia mengambil keputusan etis, teori-teori
etika dan prinsip-prinsip moral dasar yang menjadi pegangan bagi manusia dalam
bertindak serta tolak ukur dalam menilai baik atau buruknya suatu tindakan.
Etika umum dapat di analogkan dengan ilmu pengetahuan, yang membahas
mengenai pengertian umum dan teori-teori.
b. ETIKA KHUSUS, merupakan penerapan prinsip-prinsip moral dasar dalam
bidang kehidupan yang khusus. Penerapan ini bisa berwujud : Bagaimana saya
mengambil keputusan dan bertindak dalam bidang kehidupan dan kegiatan
khusus yang saya lakukan, yang didasari oleh cara, teori dan prinsip-prinsip moral
dasar. Namun, penerapan itu dapat juga berwujud : Bagaimana saya menilai
perilaku saya dan orang lain dalam bidang kegiatan dan kehidupan khusus yang
dilatarbelakangi oleh kondisi yang memungkinkan manusia bertindak etis : cara
bagaimana manusia mengambil suatu keputusan atau tidanakn, dan teori serta
prinsip moral dasar yang ada dibaliknya.
ETIKA KHUSUS dibagi lagi menjadi dua bagian :
a. Etika individual, yaitu menyangkut kewajiban dan sikap manusia terhadap dirinya
sendiri.
b. Etika sosial, yaitu berbicara mengenai kewajiban, sikap dan pola perilaku
manusia sebagai anggota umat manusia.
Perlu diperhatikan bahwa etika individual dan etika sosial tidak dapat dipisahkan satu
sama lain dengan tajam, karena kewajiban manusia terhadap diri sendiri dan sebagai
anggota umat manusia saling berkaitan.
Etika sosial menyangkut hubungan manusia dengan manusia baik secara langsung
maupun secara kelembagaan (keluarga, masyarakat, negara), sikap kritis terhadpa
pandangan-pandangana dunia dan idiologi-idiologi maupun tanggung jawab umat
manusia terhadap lingkungan hidup.
Dengan demikian luasnya lingkup dari etika sosial, maka etika sosial ini terbagi atau
terpecah menjadi banyak bagian atau bidang. Dan pembahasan bidang yang paling
aktual saat ini adalah sebagai berikut :
1. Sikap terhadap sesama
2. Etika keluarga
3. Etika profesi
4. Etika politik
5. Etika lingkungan
6. Etika idiologi
SISTEM PENILAIAN ETIKA :
• Titik berat penilaian etika sebagai suatu ilmu, adalah pada perbuatan baik atau
jahat, susila atau tidak susila.
• Perbuatan atau kelakuan seseorang yang telah menjadi sifat baginya atau telah
mendarah daging, itulah yang disebut akhlak atau budi pekerti. Budi tumbuhnya
dalam jiwa, bila telah dilahirkan dalam bentuk perbuatan namanya pekerti. Jadi
suatu budi pekerti, pangkal penilaiannya adalah dari dalam jiwa; dari semasih
berupa angan-angan, cita-cita, niat hati, sampai ia lahir keluar berupa perbuatan
nyata.
• Burhanuddin Salam, Drs. menjelaskan bahwa sesuatu perbuatan di nilai pada 3
(tiga) tingkat :
a. Tingkat pertama, semasih belum lahir menjadi perbuatan, jadi masih berupa
rencana dalam hati, niat.
b. Tingkat kedua, setelah lahir menjadi perbuatan nyata, yaitu pekerti.
c. Tingkat ketiga, akibat atau hasil perbuatan tersebut, yaitu baik atau buruk.
Dari sistematika di atas, kita bisa melihat bahwa ETIKA PROFESI
merupakan bidang etika khusus atau terapan yang merupakan produk dari
etika sosial.
Kata hati atau niat biasa juga disebut karsa atau kehendak, kemauan, wil. Dan isi dari
karsa inilah yang akan direalisasikan oleh perbuatan. Dalam hal merealisasikan ini
ada (4 empat) variabel yang terjadi :
a. Tujuan baik, tetapi cara untuk mencapainya yang tidak baik.
b. Tujuannya yang tidak baik, cara mencapainya ; kelihatannya baik.
c. Tujuannya tidak baik, dan cara mencapainya juga tidak baik.
d. Tujuannya baik, dan cara mencapainya juga terlihat baik.
C. PENGERTIAN PROFESI
Profesi
Istilah profesi telah dimengerti oleh banyak orang bahwa suatu hal yang berkaitan
dengan bidang yang sangat dipengaruhi oleh pendidikan dan keahlian, sehingga
banyak orang yang bekerja tetap sesuai. Tetapi dengan keahlian saja yang diperoleh
dari pendidikan kejuruan, juga belum cukup disebut profesi. Tetapi perlu penguasaan
teori sistematis yang mendasari praktek pelaksanaan, dan hubungan antara teori dan
penerapan dalam praktek.
Kita tidak hanya mengenal istilah profesi untuk bidang-bidang pekerjaan seperti
kedokteran, guru, militer, pengacara, dan semacamnya, tetapi meluas sampai
mencakup pula bidang seperti manajer, wartawan, pelukis, penyanyi, artis, sekretaris
dan sebagainya. Sejalan dengan itu, menurut DE GEORGE, timbul kebingungan
mengenai pengertian profesi itu sendiri, sehubungan dengan istilah profesi dan
profesional. Kebingungan ini timbul karena banyak orang yang profesional tidak
atau belum tentu termasuk dalam pengertian profesi. Berikut pengertian profesi dan
profesional menurut DE GEORGE :
PROFESI, adalah pekerjaan yang dilakukan sebagai kegiatan pokok untuk
menghasilkan nafkah hidup dan yang mengandalkan suatu keahlian.
PROFESIONAL, adalah orang yang mempunyai profesi atau pekerjaan purna waktu
dan hidup dari pekerjaan itu dengan mengandalkan suatu keahlian yang tinggi. Atau
seorang profesional adalah seseorang yang hidup dengan mempraktekkan suatu
keahlian tertentu atau dengan terlibat dalam suatu kegiatan tertentu yang menurut
keahlian, sementara orang lain melakukan hal yang sama sebagai sekedar hobi, untuk
senang-senang, atau untuk mengisi waktu luang.
Yang harus kita ingat dan fahami betul bahwa “PEKERJAAN / PROFESI” dan
“PROFESIONAL” terdapat beberapa perbedaan :
PROFESI :
- Mengandalkan suatu keterampilan atau keahlian khusus.
- Dilaksanakan sebagai suatu pekerjaan atau kegiatan utama (purna waktu).
- Dilaksanakan sebagai sumber utama nafkah hidup.
- Dilaksanakan dengan keterlibatan pribadi yang mendalam.
PROFESIONAL :
- Orang yang tahu akan keahlian dan keterampilannya.
- Meluangkan seluruh waktunya untuk pekerjaan atau kegiatannya itu.
- Hidup dari situ.
- Bangga akan pekerjaannya.
CIRI-CIRI PROFESI
Secara umum ada beberapa ciri atau sifat yang selalu melekat pada profesi, yaitu :
1. Adanya pengetahuan khusus, yang biasanya keahlian dan keterampilan ini
dimiliki berkat pendidikan, pelatihan dan pengalaman yang bertahun-tahun.
2. Adanya kaidah dan standar moral yang sangat tinggi. Hal ini biasanya setiap
pelaku profesi mendasarkan kegiatannya pada kode etik profesi.
3. Mengabdi pada kepentingan masyarakat, artinya setiap pelaksana profesi harus
meletakkan kepentingan pribadi di bawah kepentingan masyarakat.
4. Ada izin khusus untuk menjalankan suatu profesi. Setiap profesi akan selalu
berkaitan dengan kepentingan masyarakat, dimana nilai-nilai kemanusiaan berupa
keselamatan, keamanan, kelangsungan hidup dan sebagainya, maka untuk
menjalankan suatu profesi harus terlebih dahulu ada izin khusus.
5. Kaum profesional biasanya menjadi anggota dari suatu profesi.
Dengan melihat ciri-ciri umum profesi di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa kaum
profesional adalah orang-orang yang memiliki tolak ukur perilaku yang berada di atas
rata-rata. Di satu pihak ada tuntutan dan tantangan yang sangat berat, tetapi di lain
pihak ada suatu kejelasan mengenai pola perilaku yang baik dalam rangka
kepentingan masyarakat. Seandainya semua bidang kehidupan dan bidang kegiatan
menerapkan suatu standar profesional yang tinggi, bisa diharapkan akan tercipta suatu
kualitas masyarakat yang semakin baik.
PRINSIP-PRINSIP ETIKA PROFESI :
1. Tanggung jawab
- Terhadap pelaksanaan pekerjaan itu dan terhadap hasilnya.
- Terhadap dampak dari profesi itu untuk kehidupan orang lain atau masyarakat
pada umumnya.
2. Keadilan. Prinsip ini menuntut kita untuk memberikan kepada siapa saja apa
yang menjadi haknya.
3. Otonomi. Prinsip ini menuntut agar setiap kaum profesional memiliki dan di beri
kebebasan dalam menjalankan profesinya.
SYARAT-SYARAT SUATU PROFESI :
- Melibatkan kegiatan intelektual.
- Menggeluti suatu batang tubuh ilmu yang khusus.
- Memerlukan persiapan profesional yang alam dan bukan sekedar latihan.
- Memerlukan latihan dalam jabatan yang berkesinambungan.
- Menjanjikan karir hidup dan keanggotaan yang permanen.
- Mementingkan layanan di atas keuntungan pribadi.
- Mempunyai organisasi profesional yang kuat dan terjalin erat.
- Menentukan baku standarnya sendiri, dalam hal ini adalah kode etik.
PERANAN ETIKA DALAM PROFESI :
• Nilai-nilai etika itu tidak hanya milik satu atau dua orang, atau segolongan orang
saja, tetapi milik setiap kelompok masyarakat, bahkan kelompok yang paling
kecil yaitu keluarga sampai pada suatu bangsa. Dengan nilai-nilai etika tersebut,
suatu kelompok diharapkan akan mempunyai tata nilai untuk mengatur kehidupan
bersama.
• Salah satu golongan masyarakat yang mempunyai nilai-nilai yang menjadi
landasan dalam pergaulan baik dengan kelompok atau masyarakat umumnya
maupun dengan sesama anggotanya, yaitu masyarakat profesional. Golongan ini
sering menjadi pusat perhatian karena adanya tata nilai yang mengatur dan
tertuang secara tertulis (yaitu kode etik profesi) dan diharapkan menjadi pegangan
para anggotanya.
• Sorotan masyarakat menjadi semakin tajam manakala perilaku-perilaku sebagian
para anggota profesi yang tidak didasarkan pada nilai-nilai pergaulan yang telah
disepakati bersama (tertuang dalam kode etik profesi), sehingga terjadi
kemerosotan etik pada masyarakat profesi tersebut.
Sebagai contohnya adalah pada profesi hukum dikenal adanya mafia peradilan,
demikian juga pada profesi dokter dengan pendirian klinik super spesialis di
daerah mewah, sehingga masyarakat miskin tidak mungkin menjamahnya.

D. KODE ETIK PROFESI
Kode; yaitu tanda-tanda atau simbol-simbol yang berupa kata-kata, tulisan atau benda
yang disepakati untuk maksud-maksud tertentu, misalnya untuk menjamin suatu
berita, keputusan atau suatu kesepakatan suatu organisasi. Kode juga dapat berarti
kumpulan peraturan yang sistematis.
Kode etik ; yaitu norma atau azas yang diterima oleh suatu kelompok tertentu sebagai
landasan tingkah laku sehari-hari di masyarakat maupun di tempat kerja.
MENURUT UU NO. 8 (POKOK-POKOK KEPEGAWAIAN)
Kode etik profesi adalah pedoman sikap, tingkah laku dan perbuatan dalam
melaksanakan tugas dan dalam kehidupan sehari-hari.
Kode etik profesi sebetulnya tidak merupakan hal yang baru. Sudah lama diusahakan
untuk mengatur tingkah laku moral suatu kelompok khusus dalam masyarakat
melalui ketentuan-ketentuan tertulis yang diharapkan akan dipegang teguh oleh
seluruh kelompok itu. Salah satu contoh tertua adalah ; SUMPAH HIPOKRATES,
yang dipandang sebagai kode etik pertama untuk profesi dokter.
Hipokrates adalah doktren Yunani kuno yang digelari : BAPAK ILMU
KEDOKTERAN. Beliau hidup dalam abad ke-5 SM. Menurut ahli-ahli sejarah
belum tentu sumpah ini merupakan buah pena Hipokrates sendiri, tetapi setidaknya
berasal dari kalangan murid-muridnya dan meneruskan semangat profesional yang
diwariskan oleh dokter Yunani ini. Walaupun mempunyai riwayat eksistensi yang
sudah-sudah panjang, namun belum pernah dalam sejarah kode etik menjadi
fenomena yang begitu banyak dipraktekkan dan tersebar begitu luas seperti sekarang
ini. Jika sungguh benar zaman kita di warnai suasana etis yang khusus, salah satu
buktinya adalah peranan dan dampak kode-kode etik ini.
Profesi adalah suatu MORAL COMMUNITY (MASYARAKAT MORAL) yang
memiliki cita-cita dan nilai-nilai bersama. Kode etik profesi dapat menjadi
penyeimbang segi-segi negative dari suatu profesi, sehingga kode etik ibarat kompas
yang menunjukkan arah moral bagi suatu profesi dan sekaligus juga menjamin mutu
moral profesi itu dimata masyarakat.
Kode etik bisa dilihat sebagai produk dari etika terapan, seban dihasilkan berkat
penerapan pemikiran etis atas suatu wilayah tertentu, yaitu profesi. Tetapi setelah
kode etik ada, pemikiran etis tidak berhenti. Kode etik tidak menggantikan pemikiran
etis, tapi sebaliknya selalu didampingi refleksi etis. Supaya kode etik dapat berfungsi
dengan semestinya, salah satu syarat mutlak adalah bahwa kode etik itu dibuat oleh
profesi sendiri. Kode etik tidak akan efektif kalau di drop begitu saja dari atas yaitu
instansi pemerintah atau instansi-instansi lain; karena tidak akan dijiwai oleh cita-cita
dan nilai-nilai yang hidup dalam kalangan profesi itu sendiri.
Instansi dari luar bisa menganjurkan membuat kode etik dan barang kali dapat juga
membantu dalam merumuskan, tetapi pembuatan kode etik itu sendiri harus
dilakukan oleh profesi yang bersangkutan. Supaya dapat berfungsi dengan baik, kode
etik itu sendiri harus menjadi hasil SELF REGULATION (pengaturan diri) dari
profesi.
Dengan membuat kode etik, profesi sendiri akan menetapkan hitam atas putih niatnya
untuk mewujudkan nilai-nilai moral yang dianggapnya hakiki. Hal ini tidak akan
pernah bisa dipaksakan dari luar. Hanya kode etik yang berisikan nilai-nilai dan citacita
yang diterima oleh profesi itu sendiri yang bis mendarah daging dengannya dan
menjadi tumpuan harapan untuk dilaksanakan untuk dilaksanakan juga dengan tekun
dan konsekuen. Syarat lain yang harus dipenuhi agar kode etik dapat berhasil dengan
baik adalah bahwa pelaksanaannya di awasi terus menerus. Pada umumnya kode etik
akan mengandung sanksi-sanksi yang dikenakan pada pelanggar kode etik.
SANKSI PELANGGARAN KODE ETIK :
a. Sanksi moral
b. Sanksi dikeluarkan dari organisasi
Kasus-kasus pelanggaran kode etik akan ditindak dan dinilai oleh suatu dewan
kehormatan atau komisi yang dibentuk khusus untuk itu. Karena tujuannya adalah
mencegah terjadinya perilaku yang tidak etis, seringkali kode etik juga berisikan
ketentuan-ketentuan profesional, seperti kewajiban melapor jika ketahuan teman
sejawat melanggar kode etik. Ketentuan itu merupakan akibat logis dari self
regulation yang terwujud dalam kode etik; seperti kode itu berasal dari niat profesi
mengatur dirinya sendiri, demikian juga diharapkan kesediaan profesi untuk
menjalankan kontrol terhadap pelanggar. Namun demikian, dalam praktek seharihari
control ini tidak berjalan dengan mulus karena rasa solidaritas tertanam kuat
dalam anggota-anggota profesi, seorang profesional mudah merasa segan melaporkan
teman sejawat yang melakukan pelanggaran. Tetapi dengan perilaku semacam itu
solidaritas antar kolega ditempatkan di atas kode etik profesi dan dengan demikian
maka kode etik profesi itu tidak tercapai, karena tujuan yang sebenarnya adalah
menempatkan etika profesi di atas pertimbangan-pertimbangan lain. Lebih lanjut
masing-masing pelaksana profesi harus memahami betul tujuan kode etik profesi baru
kemudian dapat melaksanakannya.
Kode Etik Profesi merupakan bagian dari etika profesi. Kode etik profesi merupakan
lanjutan dari norma-norma yang lebih umum yang telah dibahas dan dirumuskan
dalam etika profesi. Kode etik ini lebih memperjelas, mempertegas dan merinci
norma-norma ke bentuk yang lebih sempurna walaupun sebenarnya norma-norma
tersebut sudah tersirat dalam etika profesi. Dengan demikian kode etik profesi adalah
sistem norma atau aturan yang ditulis secara jelas dan tegas serta terperinci tentang
apa yang baik dan tidak baik, apa yang benar dan apa yang salah dan perbuatan apa
yang dilakukan dan tidak boleh dilakukan oleh seorang profesional
TUJUAN KODE ETIK PROFESI :
1. Untuk menjunjung tinggi martabat profesi.
2. Untuk menjaga dan memelihara kesejahteraan para anggota.
3. Untuk meningkatkan pengabdian para anggota profesi.
4. Untuk meningkatkan mutu profesi.
5. Untuk meningkatkan mutu organisasi profesi.
6. Meningkatkan layanan di atas keuntungan pribadi.
7. Mempunyai organisasi profesional yang kuat dan terjalin erat.
8. Menentukan baku standarnya sendiri.
Adapun fungsi dari kode etik profesi adalah :
1. Memberikan pedoman bagi setiap anggota profesi tentang prinsip profesionalitas
yang digariskan.
2. Sebagai sarana kontrol sosial bagi masyarakat atas profesi yang bersangkutan.
3. Mencegah campur tangan pihak di luar organisasi profesi tentang hubungan etika
dalam keanggotaan profesi. Etika profesi sangatlah dibutuhkan dlam berbagai
bidang.
Kode etik yang ada dalam masyarakat Indonesia cukup banyak dan bervariasi.
Umumnya pemilik kode etik adalah organisasi kemasyarakatan yang bersifat
nasional, misalnya Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI), kode etik Ikatan Penasehat
HUKUM Indonesia, Kode Etik Jurnalistik Indonesia, Kode Etik Advokasi Indonesia
dan lain-lain. Ada sekitar tiga puluh organisasi kemasyarakatan yang telah memiliki
kode etik.
Suatu gejala agak baru adalah bahwa sekarang ini perusahaan-perusahan swasta
cenderung membuat kode etik sendiri. Rasanya dengan itu mereka ingin
memamerkan mutu etisnya dan sekaligus meningkatkan kredibilitasnya dan karena
itu pada prinsipnya patut dinilai positif.


Untuk download linknya  disini

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls